Dunia Itu Fatamorgana

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Banyak sekali ayat al-Quran ataupun hadith-hadith Rasulullah yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan di antara keduanya, bahkan tidak sedikit adanya celaan terhadap kehidupan dunia. Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan lain-lain kerana semua itu adalah nikmat Allah bagi hamba-hamba-Nya, tetapi celaan itu ditujukan kepada tingkah laku anak Adam dan penghuninya terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman: ”Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak…”. (Surah Al-Hadid, Ayat 20)

Dunia ini hanyalah jalan menuju syurga dan neraka, tempat manusia mengumpulkan perbekalan untuk menuju kehidupan abadi, dan bertemu Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Yang akan menilai dan menerima bekal tersebut, jika baik maka nikmat syurga yang akan ia dapatkan dan jika buruk maka azab yang pedihlah yang akan dirasakan.

Sikap Manusia Terhadap Kehidupan Dunia

Pertama: Orang-orang yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Surah Yunus, Ayat 7)

Kedua: Orang-orang yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang yang mengikuti para Rasul. Dalam hal ini mereka tergolong kepada tiga kelompok, iaitu:

· “Zhalimun linafsih”, orang yang menzalimi diri sendiri. Bagi mereka dunia adalah segalanya, terbuai oleh keindahannya yang menipu. Mereka redha, murka, setia (berwala’) dan benci (bara’) kerana pengaruh dan motivasi dunia semata-mata. Mereka beriman kepada akhirat secara umumnya tetapi mereka tidak mengerti tujuan hidup di dunia, bahawa tidak lain ia adalah suatu tempat untuk berbekal menuju kehidupan berikutnya.

· “Muqtashid”, mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, akan tetapi membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman akan tetapi darjat mereka rendah. Umar bin Khattab berkata: “Seandainya darjat syurgaku tidak dikurangi pasti aku akan mencabar kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya yang ertinya: “Kalian sia-siakan rezeki kalian yang baik-baik hanya untuk kehidupan di dunia saja dan kalian bersenang-senang dengannya”. (Surah Al-Ahqaf, Ayat 20)

· “Sabiqun bil khairat bi idznillah”. Mereka adalah orang-orang yang faham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahawa Allah menempatkan hamba-hamba-Nya di dunia ini untuk diuji, siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud kepada dunia dan paling cinta kepada akhirat. Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami jadikan apa saja yang ada di muka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya Kami uji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya”. (Surah Al-Kahfi, Ayat 7). Golongan yang ketiga ini merasa cukup dengan mengambil dunia sekadar sebagai bekal seorang musafir.

Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang rugi. Dan hati, jika telah lalai dari zikrullah, pasti akan dikuasai syaitan dan dibimbing menurut kehendaknya. Syaitan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau malah tidak melakukannya sama sekali.

Bahaya Mencintai Dunia

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: ”Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman mesti dikembalikan”. Ulama’ yang lain berkata: ”Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan”, dan pasti merosakkan agama ditinjau dari berbagai sisi, di antaranya :

Pertama: menyebabkan pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ianya di sisi Allah sangatlah remeh, adalah termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah.

Kedua: Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. Barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah bererti ia menyediakan diri untuk mendapat seksa dan kemurkaan dari Allah.

Ketiga: Orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, iaitu menjadikan jalan-jalan sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Allah Ta’ala berfirman “Sesiapa yang keadaan usahanya semata-mata berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya (dengan tidak disaksikan sama oleh Al-Quran tentang sah batalnya), maka Kami akan sempurnakan hasil usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan sedikitpun padanya. Merekalah orang-orang yang tidak ada baginya pada hari akhirat kelak selain daripada azab neraka, dan pada hari itu gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batalah apa yang mereka telah kerjakan”. (Surah Hud, Ayat 15-16). Cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merosakkan amal, bahkan boleh menjadikannya orang yang pertama kali masuk neraka.

Keempat: Mencintai dunia akan menghalang seorang hamba dari gerak kerja yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat; dia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Ada yang disibukkan oleh kecintaannya kepada dunia sehingga terkesan iman dan syariat; juga terkesan kepada kewajiban-kewajiban yang mesti dia laksanakan, iaitu dengan melaksanakan dalam waktu yang tidak tepat, atau sekadar melaksanakannya di segi lahiriah sahaja. Paling tidak, kecintaannya terhadap dunia akan melalaikannya dari hakikat kebahagiaan seorang hamba; hati kosong dari mencintai Allah dan lisannya diam dari berzikir kepada-Nya.

Kelima; berlebihan mencintai dunia akan menjadikan harapan utama ketika hidupnya adalah dunia itu sendiri.

Keenam; orang yang berlebihan mencintai dunia adalah manusia yang diazab paling berat. Mereka diseksa di tiga negeri; di dunia ini, di alam barzakh dan di akhirat nanti. Di dunia ini mereka di azab dengan terpaksa kerja keras untuk mendapatkannya dan terpaksa bersaing sengit dengan orang lain. Adapun di alam barzakh mereka diazab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak ada sesuatupun yang menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia. Kesedihan, kedukaan dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya, sebagaimana cacing dan ulat melakukannya kepada jasadnya. Demikianlah pecinta dunia akan di azab dikuburnya. Begitu juga pada hari akhirat nanti iaitu pada hari pertemuan dengan Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman, yang maksudnya: ”Janganlah engkau tertarik hati kepada harta benda dan anak-anak mereka, (kerana) sesungguhnya Allah hanya hendak menyeksa mereka dengan harta benda dan anak-anak itu dalam kehidupan dunia, dan hendak menjadikan nyawa mereka tercabut sedang mereka berkeadaan kafir (untuk mendapat azab akhirat pula)”. (Surah at-Taubah, Ayat 55)

Mentafsirkan ayat di atas, sebahagian ulama’ salaf berkata :”Mereka diazab dengan jerih payah dan kerja keras dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang kerana cintanya dan mereka menjadi kafir kerana tidak menunaikan hak Allah berkaitan dengan kemegahan dunia itu”.

Ketujuh; orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya daripada akhirat adalah makhluk yang paling keliru, bodoh, dungu dan tidak berakal. Kerana mereka lebih mengutamakan khayalan daripada sesuatu yang hakiki, mengutamakan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal itu dengan kenikmatan yang palsu. Manusia yang berakal cerdas (maksudnya, bertaqwa) tentunya tidak akan tertipu dengan hal seperti ini.

Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang, disangka memiliki hakikat yang tetap padahal tidak demikian. Dikejar untuk dicapai, tetapi sudah pasti tidak akan pernah sampai.

Dunia sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati apa-apa pun. Justeru yang ia perolehi adalah Allah Ta’ala dengan hisab-Nya, dan Allah sangat cepat hisab-Nya.

Maka saudaraku, marilah kita berlumba-lumba dalam berbuat kebaikan, untuk meraih redha Allah Ta’ala, syurga-Nya dan apa-apa yang telah dijanjikan-Nya serta keutamaan-keutamaan di alam akhirat yang kekal abadi, yang mana Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya: ”Dan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Surah al-A’laa, Ayat 17). Janganlah kita terpengaruh dengan tipu daya syaitan yang senantiasa menggoda anak cucu adam supaya tergelincir, sehingga terjerumus kepada kesesatan, penyimpangan, menurut segala keinginan hawa nafsu sehingga lupa hak-hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan serta lupa dari kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh pandangan mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayangkan dalam benak hati manusia. Itulah kenikmatan yang Allah Ta’ala janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat dari-Nya. Wallahu a’lam.

Oleh : Abu Thalhah Andri Abd Halim

Di nukil dari “Tazkiatun-Nufus” (Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim dan Imam al-Gazhali)

Saringan dari sumber: http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=507

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s